Sakit: Jalan Sunyi Menuju Kesadaran Abid Rohmanu, April 16, 2025April 16, 2025 Kadang kita terlalu sibuk berlari, hingga lupa bahwa tubuh bukan mesin. Tuhan pun akhirnya menegur… bukan lewat kata, tapi lewat demam, nyeri, dan lelah yang memaksa kita berhenti.Sakit, meski tak pernah diundang, sering kali datang sebagai guru—mengajarkan kita arti kesehatan, arti cukup, arti istirahat, dan arti syukur.Dalam sakit, kita belajar bahwa daya manusia ada batasnya. Bahwa akal dan fisik butuh istirahat, dan ruh butuh ditenangkan. Kita disadarkan: bahkan satu sendi yang nyeri bisa melumpuhkan banyak rencana besar.Sakit juga punya sisi spiritual. Ia menggugurkan dosa, membuka ruang taubat, dan menguatkan rasa tawakkal. Seperti kata Nabi, “Tak ada sakit yang menimpa seorang Muslim, kecuali dihapuskan darinya dosa-dosa, sebagaimana daun berguguran dari pohon.”Maka mari kita terima sakit bukan sebagai gangguan, tapi sebagai jeda. Sebagai ruang refleksi. Agar setelah pulih, kita kembali berjalan bukan hanya dengan kekuatan tubuh, tapi juga dengan kejernihan jiwa.FacebookShare on XLinkedInWhatsAppEmailCopy Link Post Views: 86Bagikan ke: Artikel Jalan sunyiKesadaranSakit