Riwayat Singkat Kyai Ageng Muhamad Besari (Tahun 1700 M) admin, February 17, 2024February 23, 2024 Riwayat singkat K. Ageng Mohamad Besari ini didasarkan pada catatan tangan KH. Ach. Abrori (alm.). Walaupun tanpa disertai rujukan, catatan tersebut merupakan khazanah yang sebagian adalah riwayat/cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi.Kyai Ageng Muhamad Besari adalah putra dari Kyai Anom Besari (Kuncen Caruban). Garis keturunan dari jurusan bapak dan ibu ke atas secara berurutan adalah sebagai berikut:Jurusan Bapak ke AtasJurusan Ibu ke AtasKyai Ageng Muhamad Besari (Tegalsari)Kyai Ageng Muhamad Besari (Tegalsari)Kyai Anom Besari (Caruban)Ny. Anom Besari (Caruban)Kyai Ageng Abdul Mursyad (Kediri)R. Satmoto (K. Arobi Sby)P. Demang II (Raden Irawan)Pangeran Pangampon (surabaya)P. Demang I (Raden Jalu)Pangeran Pekik Jenggolo (Adipati Surabaya)Panembahan WirasmoroRaden Panji Jaya Lengkara (Adipati Surabaya)Panembahan Prawoto (Adipati Demak)Raden Panji Wirya Krama (Adipati Surabaya)Sultan Trenggono (Sultan Demak)Pgr. Trenggana (Adipati Surabaya)Raden Fatah (Sultan Demak Bintoro I)Sayid Qosim Syarifuddin (Sunan Drajad)Bhre Kerta Wijaya (Brawijaya V)Raden Rahmad (Sunan Ampel)Sumber: Silsilah Keluarga KH. Abdul GhaniDiceritakan Kyai Ageng Mohamad Besari dengan adiknya “nyantri” di Setono Tegalsari, Pondok Kyai Donopuro. Kyai Donopuro adalah salah satu Kyai yang dinilai alim, berbudi bowo leksono, asih dengan sesama, dan gemar memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Santri Kyai Donopuro tidak hanya datang dari lokal, tetapi juga banyak yang dari luar daerah. Kyai Donopuro sendiri adalah adalah keturunan dari Sunan Tembayat.Setelah di Pondok 4 tahun, Kyai Ageng dan adiknya, Kyai Nur Sodik, minta izin kepada Gurunya, Kyai Donopuro untuk menjelajah Ponorogo. Keduanya kemudian berjalan ke arah selatan. Tiba di daerah Mantup, Kyai Nur Sodik merasa kehausan. Saat itu tidak mudah menemukan tempat untuk minum.Kebetulan mereka melihat buah pohon kelapa milik Kyai Nur Salim (Mantup). Keduanya minta izin untuk mendapatkan buah tersebut untuk mengobati rasa haus. Setelah diizinkan, Kyai Ageng memberikan isyarat tangan ke buah kelapa, dan jatuhlah buah-buah kelapa tersebut. Melihat hal tersebut, Kyai Nur Salim, sang pemilik, memperingatkan yang intinya caranya tidak seperti itu. Kemudian, pohon kelapa “ditelungke” oleh Kyai Nur Salim sehingga buah kelapa bisa diambil dengan mudah oleh Kyai Ageng dan adiknya.Keduanya kemudian minum secukupnya. Setelah itu, terjadilah dialog antara Kyai Nur Salim dan Kyai Ageng serta adiknya. Singkat cerita Kyai Nur Salim tertarik dengan Kyai Ageng dan menjadikannya sebagai mantu. Kyai Nur Salim juga sering disebut dengan Kyai Ageng Mantup. Diberikan nama “mantup” karena mantabnya hati Kyai Nur Salim dalam menjadikan Kyai Ageng sebagai anak mantu.Setelah mempersunting putri Kyai Nur Salim, Kyai Ageng kemudian pulang ke Pondok Setono dengan istrinya. Melihat Kyai Ageng sudah berumah tangga, Kyai Donopuro mempersilakan Kyai Ageng untuk membuat rumah di timur sungai yang juga masih bagian dari lahan (tegalan) Kyai Donopuro. Selanjutnya disebutlah “Tegalsari”.Di tempat yang baru Kyai Ageng memantabkan diri sebagai sosok kyai. Setelah Kyai Donopuro wafat, “pulung” atau keberuntungan berpindah ke Kyai Ageng hingga bisa mendirikan pondok dengan puluhan ribu santri. (Abid R.)FacebookShare on XLinkedInWhatsAppEmailCopy Link Post Views: 315Bagikan ke: Serba-serbi kyai ageng mohamad besarikyai donopurokyai nur salimtegalsari